Kamis, 11 Oktober 2018

author photo

Peringatan: postingan ini isinya marah-marah.

Ya gimana ya? Makin hari makin gak ngerti lagi sama orang-orang di luar sana. Entah di dunia nyata maupun di dunia maya. Terlalu bising, terlalu banyak bercanda, terlalu keterlaluan. Ehm.. yang pada akhirnya ya omong kosong gitu, gak sedikit ekspektasi agar orang-orang "kaum intelektual" bisa berpikiran lebih bijaksana dibanding orang-orang yang cuma "tukang pamer". Tapi kenyataannya?

Belum lagi, teruntuk orang-orang yang seneng berkomentar tanpa ada kejelasan benang merah cara berpikirnya. Gua gak terlalu menjadikannya bahan pertimbangan secara utuh apalagi menjadikannya sebagai sebuah keputusan, karena aspek benar dan salah yang gua anut itu ya ukurannya wahyu Tuhan, serta aspek baik dan buruk itu ya ukurannya; filosofis yang berasal dari akal, serta tradisi adat budaya masyarakat yang berlaku, bukan komentar orang-orang apalagi komentar netizen yang alaihum gambreng + fake account.

Jangan dipukul rata, cukup dada aja yang rata. Eh, gak gitu juga sih.

Contoh, gua lagi galau karna abis ditolak sama cewek. Pas awal-awal pasti gak bakal terima perkataan, yaelah galau karna cinta mulu dan bla bla bla, karena hati lebih menerima perkataan yang lebih bersifat mengayomi dahulu dibanding perkataan yang bersifat menggurui, namanya juga masa di fase-fase awal patah hati. Butuh perhatian dan pembenaran.

Sama halnya ketika bencana terjadi. Adabnya kita memberikan perkataan yang bersifat mengayomi, membangun dan memberi motivasi terlebih dahulu. Seperti; tabah, sabar, ayo bangkit dan sebagainya. Selepas trauma sedikit berlalu, baru deh perkataan tentang sebuah hikmah kehidupan yang mungkin bersifat menggurui, seperti; oh ini cobaan, oh ini ujian, ini teguran, bahkan peringatan. Atau adzab sekalipun yang pastinya bikin hati dag-dig-dug.


Ngomongin tentang adzab, gua gak terlalu suka ketika adzab dibuat main-main. Ya bisa dikategorikan bercanda yang sudah berlebihan kalo sampe ada kuis, tuliskan adzab versi kamu! Wagelaseh, kita minta di-adzab gitu? Apalagi ketika di televisi ada acara tentang adzab-adzab meskipun judulnya terlalu nyeleneh seperti mempermainkan adzab.

Tapi lebih nyeleneh lagi ketika orang yang nyinyir tentang adzab, saat ditanya emang ceritanya kaya gimana, eh dia menjawab, maaf gue gak nonton. Yaampun. Kebiasaan dari masyarakat kita hari ini ialah menjadi tukang sunat, entah itu informasi yang disunat, atau uang dana bantuan yang seharusnya disalurkan, bahkan waktu sekalipun ikut disunat, sehingga budaya telat seringkali terjadi. Padahal apa susahnya melihat secara utuh?

Tapi gimana cara ngeliatnya ya? Hahaha.
Ke-triggered duluan. Gua nonton sampai habis sinetron adzab, menurut gua pesan ceritanya bagus kok, mengajak kita agar tidak berbuat keburukan apalagi sampai jahatin orang lain.

Dan kembali lagi, mau seperti apapun adzab, itu hal mudah bagi Allah, cukup bagi Allah berkata, "Kun, Fayakun!" So, kalo kita ngomong sembarangan tentang adzab, dan dikabulkan sama Allah gimana? Nauzubillah. Tapi emang bener kayanya, kita sudah gak takut lagi sama Tuhan, merasa gak ada yang ngeliat, toh lampu merah aja kalo gak ada polisi, diterobos terus, apalagi tentang ini.

Bahkan sampe ada yang bilang, bahwa yang percaya akan adanya Tuhan, adalah orang-orang yang percaya akan ramalan masa depan. Kami tidak butuh suara umat! Tapi pas mau pemilu malah caper ke ulama, pergi ke pesantren-pesantren. Kurang ngeselin apa coba? Kaya yang sering teriak saya pancasila, tapi jarang menerapkan pancasila dalam kehidupannya. Teriak saya muslim, tapi akhlaknya tidak mencontohkan keislamannya.

Wihhh, gua bakal dikatain sekolam dah ini hahaha. Jangan sombong. Gua juga suka sering khilaf kok. Karena manusia itu gudangnya salah. Ini juga nyinyir karena sebenernya akutuuu sayang sama kamu, kamu, dan kamu. Halah.

Setiap orang memang bebas berpendapat, tapi bagaimana caranya agar tetap menghormati yang berbeda pendapat. Mencoba saling memahami sesama.. eh, tapi ngapain juga memahami, toh yang lain juga gamau memahami. Kalo beda, berarti kita musuh! Wajib diintimidasi, dihancurkan bahkan dibunuh, kaya kasus suporter bola. Mindset seperti itulah yang menjadi masalah pada hari ini.

Belum lagi lambe-lambe yang bikin sakit hati, kaya kasus penistaan agama. Tentu siapa yang gak sakit hati ketika dibilang pasukan nasi bungkus ketika aksi menuntut keadilan. Gua gak dapet nasi bungkus tuh, toh dateng dan makan dari uang pribadi, dan kalo yang makan secara rame-rame pun mereka emang udah punya uang kas dari rombongan pengajiannya jauh-jauh hari.

Namun,

Gua harus akui, gak 100% niat yang ada disitu untuk menuntut keadilan, apalagi para elit pejabat yang cuma cari muka buat dapetin suara. Memanfaatkan situasi, makanya selain satu komando ulama, gua katakan "Tidak!". Tapi namanya ghiroh agama yang ada di dada, siapa yang rasa? Cuma bisa ikhlas pas dikatain dan dinyinyirin dengan sebutan "sekumpulan orang idiot". Gapapa, tapi pengen gitu ngasih cermin segede papan reklame ke muka mereka hehehe.

Mereka yang katanya kaum paling benar, namun setiap acara selalu menghasilkan sampah dan berebut nasi kotak. Kira-kira, logika apasih yang mereka gunakan? Nalarnya tuh kemana? Ehem...

Mungkin mereka lupa sama pelajaran pancasila saat sekolah dulu, maklum. Eh iya, bohong atau bikin hoax ke satu negara itu termasuk perbuatan yang tak mencerminkan pancasila juga loh. Karna kalo berbohong pasti akan ada kebohongan selanjutnya. Astaghfirullah, intinya mendukung sesuatu boleh, tapi tanpa menghina yang lain, memuji sesuatu boleh, tapi tanpa merendahkan yang lain. Lagian, susah banget ya kalo gak ngejelekin sama ngatain orang?

Susah, soalnya muka gua minta dikatain. Halah halah.

Terlalu meributkan hal-hal yang tidak penting hingga melupakan permasalahan yang fundamental. Terlalu asik dengan diri sendiri sampai lupa tanggung jawab. Ya memang sih pada hari ini, etika sulit ditegakkan, semua orang bisa jadi siapapun, dan segala informasi tentang isme boleh bermunculan. Tapi mbok yaaa, ah sudahlah bingung, apalagi pas dibilangin, kamu berkata begini-begini tapi kamu sendiri yang begini-begini. Astaghfirullah. Khilaf saya juga.

Buat yang tetap mempertahankan hijab, saya tetap bangga. Saya mengerti situasinya, tapi permasalahan sebenarnya bukan pada hijabmu kok. Salam Saranghae.

Mungkin cara yang gua ambil sekarang ini adalah diam. Iya, diam. Diam sampai tiba saat terjadinya sebuah kehancuran. Senyumin aja dulu. Tapi intinya jangan pernah merasa lebih baik, bukankah Iblis diusir dari surga karna merasa lebih baik daripada Adam?

Wallahualam.

Sumber Foto:
freelovewalls - orang ketika marah
tribunnews - netizen aneh
Klik Disini

This post have 10 komentar

avatar
Zahrah Nida delete 12 Oktober 2018 06.04

Teteteteeetttt /menebarkan confetti/.

Ada banyak aspek yang jadi korban pemarahan.
Sebagai pengguna meda sosial, jangan sampai masuk fraksi warganet yang maha benar. Tapi dengan celotehan-celotehan mereka, saya akui, pikiran saya jadi lebih luas dan terpacu untuk berpikir lebih dalam sih.

Ini mungkin terkesan apatis, karena kalau ngeliatin yang rame-rame saya diem aja udah. Tapi soalnya kalau keikut panas, makin gak tenang kehidupan di kehidupan nyata.

Capek lihat mereka-mereka itu? Yaudah diliatin sambil ketawa-ketawa aja wkwk. Apalagi tentang adzab dan segala konklusi aneh mereka.

Untuk masalah politik menarik. Wajar kalau kita berat sebelah pada satu kubu. Tapi saya berpegang teguh masing-masing mereka manusia yang punya kekurangan dan kelebihan. Kalau kekurangan, ga usah dibahas lah ya. Karena membahas kekurangan seseorang itu tanpa sadar ntar kita bersikap kayak Tuhan. Padahal mana tahu kalau beliau (yang ga kita sukai) punya amalan rahasia?

Maka dari itu (kalau saya sih), bersikap fair aja ketika ada berita positif tentang kubu yang gak kita beratin.

Karena sebenarnya jatohnya sama aja masing-masing kubu itu. Masing-masing sama-sama punya pendukung yang kurang dewasa.

Wallahualam.

Intinya, plis gausah menjelek-jelekkan.

Reply
avatar
Yoga Akbar Sholihin delete 12 Oktober 2018 23.50

Saya juga lebih sering diam aja. Bahkan udah males buka Twitter dan medsos lainnya ketika menemukan keributan-keributan begitu. Ya, meskipun seringnya bisa jadi hiburan tersendiri, sih. Hahaha. Lalu saya teringat kalimat dari personel SID, "Di era yang semakin tidak jelas ini, menjadi netral bukanlah solusi untuk sebuah perubahan yang lebih baik (dalam konteks apa pun). Berani memihak adalah mutlak. Karena jika kamu bukan bagian dari solusi, maka kamu adalah bagian dari masalah."

Rasanya saya belum bisa memberi solusi untuk kebaikan bangsa ini, jadi mungkin saya termasuk ke bagian masalahnya. Tapi saya selama ini terus berusaha enggak berbuat hal-hal dungu, apalagi merugikan orang lain. Apa itu ke arah solusi? :(

Reply
avatar
Jeryanuar delete 13 Oktober 2018 08.50

Saking muaknya dengan keramaian dunia maya kadang suka malas sekali buka medsos. Kalaupun buka medsos hanya lihat-lihat saja...dann tetap saja ternyata isinya banyak yang gak penting :( termasuk juga mungkin status2 atau quote2 yang saya post

Ya adzab dibikin kuis lah, soal bencana dibikin becandaan, sampai hoax yang merajalela...makin lama makin ramai. Akan jadi apa ya, negri dunia maya kita ini kedepannya, kadang suka mikir kesitu

Reply
avatar
Beny Oki Sugiarto delete 13 Oktober 2018 10.09

anak kecil jaman sekarang malah suka yg aneh2 guitu mas. kayak suka tawuran, padahal dia sekolah harus ointer. ini malah adu tawurran. apa kira2 dia bakal jadi pemain MMA ya?

Reply
avatar
Son Agia delete 14 Oktober 2018 11.59

Kece nih opini. Aku bisa merasakan adanya gejolak muda yg berapi-api dalam tulisan Asep ini.

Ah ya sekedar tambahan, aku juga sempet ketawa pas ada yg bilang aksi tuntut keadilan cuma sebatas gerakan nasi bungkus. Ckckck itulah knapa riset & analisis mendalam begitu penting.

Reply
avatar
Vanisa Desfriani delete 15 Oktober 2018 09.44

aah, udah bingung mau komen apa. kayaknya bahas yang kaya gini gak bakalan selesai2. Feeling sad, dengan adanya sosmed banyak banget org2 yg berkomentar dengan emosi tanpa di saring dan di pikirkan lebih dulu. Tapi di sisi lain bikin happy juga karena banyak hal yang jadi jauuh lebih baik. Sekarang mah kita yang harus bisa memfilter diri sendiri membuang hal2 buruk dan menyerap hal2 yang baik. Apalagi algoritma sosmed berubah, semakin banyak kita follow dan like hal2 baik, maka hal2 itu aja yang bakal terus2an muncul di feed kita :)

Reply
avatar
Febri Dwi Cahya Gumilar delete 15 Oktober 2018 13.53

Hahahahanjer, ini mewakili kegeraman saya sih yang mana pada akhirnya saya lebih memilih untuk diam-diam-dan-diam saja :')

Bgst memang.

Eh, maaf.

maksudnya, ya bgst emang.

Reply
avatar
Ramadhani Azhari delete 16 Oktober 2018 13.07

sepertinya kami, kita perlu memperdalam lagi apa arti dan makna Pacasila yg sebenarnya.. emm..

Reply
avatar
Rafi delete 17 Oktober 2018 08.23

finally somebody talk about it.

saya belum pernah nonton sinetron azab. cuma lihat di instagram saja. dan paling membaca komentar netizen di sana.

Reply
avatar
AuL Howler delete 20 Oktober 2018 15.33

Hahahhaha
Namanya juga kids jaman now

Liatin aja, ntar juga mati sendiri


:))))

Reply

Add your massage to every single people do comment here!

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

iklan masalien