Jasa Vector Murah

Jumat, 29 September 2017

author photo
Pancasila Sakti

Sok-sokan mau ngereview film, buat inget nama tokoh-tokohnya aja harus nonton berulang-ulang. Kalo gitu, saya engga jadi nge-review film deh tapi curhat tentang bagaimana perasaan ini ketika menonton film. Gimana?

Tapi mengapa menonton film G 30 S PKI?

Ehm.. kenapa ya? Mungkin, berhubung bapak sama emak sering ngomongin film ini kalo lagi flashback-flashback masa muda mereka. Ya saya jadi tertarik untuk menonton film ini. Sebuah maha karya dari seorang sutradara legendaris Indonesia yaitu Arifin C Noer. Yap. Penasaran. Film yang hampir setiap tahun diputar pada pemerintahan orde baru ini membuat saya penasaran. Tapi hanya itukah alasannya?

Tentu engga.

Alasan kedua, sebenernya saya udah pernah nonton film ini tapi waktu itu saya belum sempet men-tamatkan. Baru sempet nonton sekitar 20 menit, eh ngantuk. Atuh ya, malem-malem nonton film dengan resolusi low quality membuat kepala saya sedikit ngangguk-ngangguk. Pusing. Udah gitu prolog di film G 30 S PKI memang temponya agak slow-slow asik gimana gitu *loh.

Tapi hanya itukah?

Oh tidak, alasan selanjutnya kenapa saya menonton film ini karena… Ada isu PKI mulai muncul kembali mamen! Huh, sedang heboh banget. Panas. Padahal mah sejak tahun 2014 yang lalu sebuah golongan yang mengatasnamakan dirinya anti PKI PKI club, sudah mengingatkan akan tentang hal ini. Mungkin karena baru terasa di masyarakat kali ya?

Eh tapi kalo kata lagunya haji Rhoma Irama mah yang berjudul Kehilangan. Baru akan terasa apabila sudah tiada. Bukan ketika tidak ada menjadi ada. Nah loh? Engga percaya? Coba kita nyanyikan!

Kalo sudah tiada, baru terasaaa.

Bahwa kehadirannya, sungguh berhargaaa.


Sungguh berat aku rasa, kehilangan diaaa.


Sungguh berat aku rasa, hidup tanpa diaaa.


NYANYIKAN LEBIH KERAS!

Bener loh, sesuatu akan terasa berharga apabila dia sudah tidak lagi bersama kita. Pacar misalnya. Kadang saya suka kangen sama pacar yang sekarang udah berubah status menjadi mantan. You know-lah. Malem-malem kan kalo di Bogor mah hawanya dingin gimana gitu apalagi di daerah puncak.

Jadi tanpa disadari rasa dingin tersebut telah merasuk ke dalam hati mengingatkan kembali dinginnya sikap dia kepada saya. Contoh, ketika setahun yang lalu saya nanyain kabar dia. Jutek banget. Saya juga masih bingung kenapa dia bisa gitu ya?

Apa karena doinya yang sekarang itu lebih ganteng? Apa karena doinya yang sekarang lebih asik? Cuih. Saya juga.. gak bisa sih kaya gitu hehe. Penyesalan yang ada. Kenapa dulu saya itu cuek banget sama dia? Kenapa dulu saya itu engga perhatian sama dia? Giliran udah punya orang. Kangen. Heuh.

But, PKI tetap haram di negara Indonesia. Tak boleh ada yang kangen dengan PKI. Keberadaan PKI memang seharusnya ditiadakan. Berdasarkan Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tahun 1966. Tentang..

PEMBUBARAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA, PERNYATAAN SEBAGAI ORGANISASI TERLARANG DISELURUH WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAGI PARTAI KOMUNIS INDONESIA DAN LARANGAN SETIAP KEGIATAN UNTUK MENYEBARKAN ATAU MENGEMBANGKAN FAHAM ATAU AJARAN KOMUNIS/MARXISME-LENINISME.

Seperti chat dari mantan yang bisa saja menghancurkan perjuangan hati untuk move on setelah sekian lama. Sungguh, semua itu adalah hal yang sangat tidak diharapkan.

Eh.. eh.. ini kenapa jadi ngaco gini sih?

Back to the topic…

Selain itu, alasan saya menonton film ini karena sekarang adalah bulan september yang merupakan bulan di mana peristiwa itu terjadi. Sebuah peristiwa kelam yang dialami bangsa Indonesia, yang harus merelakan manusia-manusianya saling menumpahkan darah. Sebuah pengkhianatan. Sebuah curiga. Sebuah ambisi. Dan lain-lain hal.

Dan bulan juni adalah bulan lahir saya *lah?

Mau tau gimana perasaan saya ketika menonton film G 30 S PKI? Mau tau opini saya tentang film G 30 S PKI? Mau tau cara memperbesar p*yud*ra dan alat vital anda? Klik di sini *terlampir gambar cowok dan cewek sedang fitness.

ET DAH, EMANGNYA BLOG SAYA TEMPAT IKLAN OBAT KUAT SAMA ADS MESUM APA!?

Oke langsung saja, selamat membaca curhatan saya kali ini!

--- x ---

Untuk pertama-tama, saya akan curhat tentang efek gambar yang terdapat pada film ini. Pada zaman 1980 perfilman lokal mungkin belum mengenal yang namanya teknik cinematography modern, belum mengenal yang namanya visual effect film seperti CGI yang dipakai film RAFATAR yang konon katanya menghabiskan dana sampai 18 miliar rupiah.

Belum.

Tapi bukan berarti film ini engga enak dipandang, bukan. Lagi pula film ini kan diproduksi tahun 1980-an, spek perangkat dan softwarenya pun belum canggih, jadi wajar apabila dilihat pada masa kini film ini terkesan sangat jadul seperti film 1980-an.

Ya iyalah.

Efek suara yang terdapat pada film ini pun, sepertinya agak naik turun. Kadang engga ada suara sama sekali, kadang tiba-tiba ada suara yang bikin kaget. Ditambah lagi sama backsound yang bikin merinding, menggambarkan suasana yang mencekam dan mengerikan. Be like horror movie.

Tentu di film G 30 S PKI ada hal yang saya sukai dan ada hal yang engga saya sukai. Tatapan matanya, manis senyumnya, lebar hijabnya. Mempesona. Ya Allah jodohkan saya dengan dia.

INI APAAN WOI!?

Saya suka sama adegan perangnya, keren aja gitu. Efek tembak-tembakan, bom, tank, latar tempat. Semua sangat mendukung dan menciptakan suasana action perang dari film ini semakin terasa. Seperti diperlihatkan sebuah film perjuangan pada masa lalu. CLASSY! I LOVE IT!

Namun..

Di sisi lain, saya engga terlalu suka ketika melihat ada adegan penyiksaan yang dilakukan PKI kepada para Jenderal saat mereka berada di daerah Lubang Buaya. Ada adegan yang disilet, matanya mau dicungkil pake arit, udah gitu darah yang berceceran saat seorang jenderal ditembak, so many blood. Kejam.

“Darah itu berwarna merah, Jenderal!”

Sebuah kata-kata yang telah lama saya denger, tapi baru saya ketahui bahwa kata-kata tersebut dari film G 30 S PKI. Sayangnya kata-kata itu merupakan konfrontasi untuk membunuh seseorang. Mungkin ke depannya harus lebih berhati-hati lagi dalam berkata kali ya. Jangan cuma ikut-ikutan tanpa tau asal-usul dan sejarah kata-kata tersebut.

Astaghfirullah..

Biar engga ada yang salah paham.


Dari segi cerita, sebenernya saya agak sedikit bingung dengan alur cerita di film G 30 S PKI. Meskipun berdurasi tiga jam lebih, menurut saya terlalu banyak scene yang mubazir. Dialognya pun seperti orang sedang bercerita, jadi kurang realistis.

Ya gitu dah pokoknya mah. Lieur.

Makanya di beberapa bagian film saya sengaja reply ulang, supaya saya bisa paham apa yang sebenernya terjadi. Apalagi pas dialog perencanaan penculikan dewan jendral yang akan dilakukan oleh PKI yang ditugaskan kepada Letkol Untung. Harus paham bener. Walaupun sampai saat ini saya masih bingung alur cerita film G 30 S PKI.

Dora pun berkata : "Apa kamu mau menonton film ini sekali lagi?"

Saya : "Ya."

"Ucapkan lebih keras!"

"Ya!"

"Sekali lagi!"

"YAAAAAA!!!!!"

Kuy nonton bareng!

Film G 30 S PKI juga tidak terlepas dari adegan yang mengharukan. Dan menurut gua, adegan yang paling mengharukan dari film ini adalah ketika mayat para ketujuh jenderal diangkat dari dalam lubang yang sebelumnya ditutupi oleh PKI dengan sebuah batang pohon pisang agar tidak ketahuan. Tega bener emang.

Serta pidato dari salah seorang jenderal yang selamat yaitu A.H Nasution pada ending film ini. Dengan backsound legendaris yang menyayat hati. Berhasil membuat hati saya menjadi campur-campur. Sedih, Marah, Kesel, Semangat, menjadi satu di dalam dada. Dan berharap semoga kejadian kelam seperti ini tidak pernah terulang kembali di bumi pertiwi tercinta, aamiin.

Pada akhirnya Dia (Allah) adalah panglima tertinggi kita.” – A.H Nasution

--- x ---

Tapi secara keseluruhan ada beberapa point yang ingin saya ditulis setelah menonton film G 30 S PKI di sini.

Satu

Dalam film tersebut, digambarkan bahwa anggota PKI memang paling seneng membuat isu-isu yang meresahkan rakyat. Pada waktu itu targetnya ialah mengatasnamakan kaum buruh dan tani. Belum lagi alat untuk komunikasi pada masa itu baru sedikit, sehingga arus informasi yang sampai ke rakyat hanya melalui radio ataupun koran. Hanya satu arah. Jadi mudah menyebarkan berita bohong.

Ternyata hoax itu sudah ada sejak zaman dahulu, karena keterbatasan teknologi kendalanya. Makanya kalo zaman sekarang yang katanya teknologi semakin canggih dan komunikasi pun sudah dua arah, hoax seharusnya sudah bisa diatasi karena proses tabayyun yang sudah semakin mudah. Eh iya, kalo ada orang yang kerjaannya nyebarin hoax atau isu-isu yang bikin resah gelisah, patut diwaspadai tuh. Jangan-jangan dia antek PKI haha.

Dua

PKI itu kejam. Tapi film ini sungguh sangat cerdas, menggambarkan kekejaman PKI tapi tidak secara frontal. Salut sama film ini. Salah satunya adalah adegan dimana anggota partai komunis yang masih melakukan musyawarah dan bersikap demokratis saat merencanakan penculikan. Mungkin dari beberapa orang yang menonton film ini akan berpendapat bahwa tak semua anggota PKI pada film ini seratus persen bersalah karena toh mereka hanya menjalankan perintah ketuanya yaitu DN. Aidit.

Tapi tetap saja, namanya kejam ya tetap kejam.

Ada ya manusia tega bunuh manusia terus dimasukin ke dalam sumur tua yang begitu kecil? Engga hanya satu tapi tujuh manusia, ditambah timbunan sampah di atasnya. Udah begitu sampai melakukan perbuatan yang mengakibatkan seorang anak kecil juga ikut tertembak.

Kekejaman PKI mana lagi yang kau dustakan?

“Mana mungkin dia mengaku seorang pancasilais, sedangkan dia berideologi komunis.”

Pada hakikatnya ideologi pancasila itu bertentangan dengan ideologi komunis. Pancasila itu sangat menjunjung tinggi moral dan agama makanya pada sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sehingga seorang pancasilais diajarkan untuk mencapai sesuatu yang baik tentu harus dengan cara yang baik.

Kalo PKI? Anda bisa menjawabnya sendiri.

--- x ---

Terlepas dari polemik isi dari film ini adalah sebuah propaganda atau bukan, menurut saya film ini terbilang cukup bagus. Sebuah film tentang masa lalu yang bisa mengingatkan kembali pada bangsa ini bahwa Indonesia memiliki masa kelam yang tidak boleh terulang kembali.

Sesuai apa yang dikatakan Presiden Ir. Soekarno –JASMERAH!

Tapi, ada wacana bahwa film G 30 S PKI sebaiknya diperbaharui?

Setuju aja sih, jika yang diperbaharui adalah kualitas gambar, apalagi ditambah dengan efek cinematography seperti film-film di Hollywood gitu, beuh, efek suara juga jangan lupa ditambah bagus. Karena sebagai generasi kids zaman now, jujur aja pada beberapa scene di film G 30 S PKI saya kadang merasa bosen, apalagi dengan durasi tiga jam lebih.

Gak hanya bosen sih, tapi sedikit bingung di beberapa bagian, contohnya ketika Mayjen Soeharto rapat di dalam salah satu rumah dengan para petinggi tentara. Eh, ya pokoknya gitu dah.

Namun saya bersependapat dengan salah seorang professor sejarah dari Universitas Indonesia. Bahwa, mungkin cara penyampaian film mulai dari teknik pengambilan gambar, color correction atau apapun itu yang berhubungan dengan sineas film, boleh diperbaharui agar generasi muda bisa lebih mudah untuk memahami.

Tapi tetap, data sejarah tak boleh ada yang diubah dan harus sesuai fakta.

--- x ---

Saya akui, sepertinya tulisan ini bersifat subjektif. Mungkin karena faktor dari keluarga saya khususnya kakek, yang merupakan seorang mantan anggota ABRI (TNI) yang pada waktu itu ikut merasakan. Tapi daripada itu setelah mencari info fakta yang terjadi apalagi masih ada saksi hidup dari kejadian tersebut. Ditambah cerita dari keluarga saya. Rasanya dagelan bahwa PKI yang menjadi korban, terlalu sulit dicerna oleh logika saya.

Apalagi sampe ada isu negara meminta maaf sama mereka? Sorry sorry aja nih ya. NO! Jangan!

Tapi, bagi anda yang masih belom percaya akan kekejaman PKI, terlebih kekejaman mereka terhadap ulama.

Silahkan anda berubah jadi Uchiha Sasuke terlebih dahulu supaya bisa pake jurus edo tensei dan membangkitkan para hokage untuk mengungkapkan fakta sejarah yang sebenernya terjadi. Silahkan.

Itu pun kalo bisa.

Terakhir, bagaimana kita bisa tau PKI itu hantu atau nyata?

Seseorang berkata : “Gampang aja sih, lihat PKI ada atau engga. Lihat aja ke pemerintahan, mereka berseberangan dengan ulama apa engga."

Sekian. Terima Kasih.

Sumber foto :
detik.net - keyword museum lubang buaya.
suratkabar.id - keyword para jenderal pancasila sakti.
your advertise here

This post have 33 komentar

avatar
Lulu Andhita delete 1 Oktober 2017 17.53

Ngeri euy nonton bginian :(

Trakhir nnton pas SMP, wktu lg ada field trip ke lubang buaya, trs nntn ginian deh. Emg lama dan bkin ngantukk. Gue jg gak ngerti alur dan dialognya jg sih :') yg gue inget pas mulai pmbunuhannya.. Ah, sedih sih klo diceritain. Nangis gue nntn ini. Apalagi pas di lubang buaya ada baju bekas darah, trs ada foto pas jenazah diangkat dari sumur... Jd merinding gmn gtudah.

Bner jg tuh gue stuju klo msti di remake versi kekiniannya. klo bsa jgn hitam putih. Pdahal gatau jg gue bkal brani nntn pa enggak. Wkwk

Reply
avatar
Icha Hairunnisa delete 2 Oktober 2017 10.20

Cuma tau ini dari desas desus omongan orangtua dan rusuhnya di Twitter. Aku cuma pernah nonton potongannya, itupun didubbing sama Fluxcup :(

BANGKE LAH ITU SEGALA DORA SAMA RAFATHAR DIBAWA-BAWA HAHAHAHAHAHA.

Kayaknya emang lagi rame sih film-film lama yang digarap ulang. Aku setuju sama kamu, Sep. Kalau ini digarap ulang, kualitas gambarnya udah pasti harus diperbaikin. Sama beberapa bagian juga kayaknya dipotong aja biar durasinya nggak sampe kepanjangan kayak film India. Oh iya satu lagi, pemainnya nggak usah pake Reza Rahadian. Berikan kesempatan pada bibit-bibit muda berbakat lainnya dong. Oke sekian.

Reply
avatar
Vanisa Desfriani delete 2 Oktober 2017 11.58

jujur aja, sha belum pernah nonton ehehehe

Reply
avatar
Cipluk delete 2 Oktober 2017 15.49

Dulu pernah nonton waktu kecil. Trus abis itu kebayang-bayang pas adegan ade irma ketembak. Eyangku marinir.. kalo ditanya orang aku jawab kerjaan eyang penjual tongkat golf supaya ga didatengin ke rumah kayak di film itu.. hehehe...

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 3 Oktober 2017 02.08

Emang bukan film untuk untuk 18 tahun kebawah ya. Tapi emang sedikit serem sih. Hawa dirumahnya aja yang katanya bekas tempat penyiksaan agak-agak gimana gitu.

Tontonlah wkwk

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 3 Oktober 2017 02.11

Kenapa harus fluxcup sih :(

Yap, mungkin karena ingin bernostalgia mereun ka, atau karena udah keabisan ide untuk bikin cerita. Entahlah. Reza Hardian mirip jenderal siapa dah? -_-

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 3 Oktober 2017 02.13

Wah iya ya. Tapi kayanya cuma dewan jenderal aja deh yang mau diculik hehe.

Reply
avatar
Ami Hamni delete 3 Oktober 2017 11.26

wah nih orang gagal move on nih, masih suka kangen sama pacar jaman dulu wkwk

cinta nya datang terlambat ye :D

Reply
avatar
PIPIT delete 3 Oktober 2017 15.31

Salah 1 yang terkenal dari PKI, kekejamannya. Jadi g heran kalau film ini bakal ada adegan kekerasan. Kabupaten tempatku tinggal jadi salah satu lokasi lubang buaya oleh PKI.

Btw, untuk kalimat akhir postingan ini ambigu banget.. bersebrangan dengan ulama? Bisa tolong dijabarkan? Penasaran maksud kalimat ini karena ambigu.

Reply
avatar
Bayu Fajar Pratama delete 3 Oktober 2017 15.43

Saya juga pengen nonton film tentang PKI karena ingin lebih tau tentang sejarah PKI. Kemaren sempat nonton di TV, tapi nggak nonton dari awal haha -_-

Reply
avatar
meilany putri delete 3 Oktober 2017 16.32

belom nonton, tapi takut. Serem bet pasti :(

Reply
avatar
Yoga Akbar Sholihin delete 4 Oktober 2017 20.36

Ngapa jadi mantan dan Dora? Wqwq.

Cuma inget adegan yang Pierre apa siapa gitu, yang ditanya, "Mana Nasution?"
Dia dengan tegas menjawab, "Saya Nasution!"
Terus anaknya Nasution juga jadi korban kan, ya?

Itu filmnya juga udah nggak sesuai fakta menurut gue. Sebelum tayang, kan, ditonton dulu sama Pak Harto. :))

Soal kebenaran sejarahnya, wallahu a'lam deh~

Masalahnya ulama yang mana dulu? Belum tentu ulamanya bener-bener mementingkan kebaikan umat atau rakyat. Kalau kepentingan diri sendiri dan menebar kebencian, gue pikir itu udah ngawur. Jadi, nggak apa berseberangan juga selama pemerintahannya dalam jalur yang bener. Lagian, udah mosi tidak percaya juga, sih. Wqwq.

Reply
avatar
Andie delete 5 Oktober 2017 12.42

saya sebagai anak 90an, belum pernah nonton filem ini.. awalnya saya seneng ada yg review tapi ternyata ntah kemana-mana reviewnya sampe ke mantan wkwkwkwk

jadi inti dari postingan ini saya dapat berkesimpulan bahwasanya film ini perlu di remake dengan kualitas 4K / Bluray. sepakat???

"sepakat kaka"..

Reply
avatar
AuL Howler delete 5 Oktober 2017 13.04

emaren sempat nonton sekilas pas tayang di TV
dan bener, bikin ngantuk

dan merinding juga
penuh adegan dor dor dan mati-mati

....... dan entah kenapa di pikiran ku terbersit bahwa Suza*a akan segera muncul pake gaun kuntilanak khas nya itu wkkwwkwkwkwk

Reply
avatar
WHIZISME delete 6 Oktober 2017 15.16

Sebagai anak jaman dulu haha...
Saya sering dicekokin pelajaran dan film beginian.
Sampai-sampai waktu ke Jakarta, pilihan rekreasinya di Lubang buaya.
Yang jadi pertanyaan, itu memang benar ada buayanya ya hihi

Reply
avatar
Bimo Aji Widyantoro delete 7 Oktober 2017 10.05

skalau nonton full yang katanya sampe 3.5 jam belum pernah. Tai dari cuplikannya sih cukup bagus sih. Coba aja ada full HD nya dan di re-make ulang pasti bakalan booming.

Reply
avatar
Aprillia Ekasari delete 10 Oktober 2017 22.34

LUpa adegan2 di film ini. Dah lama banget gk nonton.
Saat masih kecil pun kyknya gak pernah tuntas nontonnya....

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 14 Oktober 2017 13.10

Engga kok teh, itu cuma biar seru aja, biar ga mononton nulisnya hehe

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 14 Oktober 2017 13.12

Kayanya harus di buat postingan ka pipit buat ngejelasinnya. Tunggu aja ya meski menunggu itu tidak enak.

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 14 Oktober 2017 13.13

Kalo udah di tv, udah dipotong-potong mas jadi kurang seru

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 14 Oktober 2017 13.15

Padahal engga ada serem-seremnya loh

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 14 Oktober 2017 13.16

Wallahualam bishawab bang hehe. Karna sejarah itu emang sesuatu yang begitulah kata nico robin mah.

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 14 Oktober 2017 13.17

Yap! Apalagi ditambah efek cinematograpinya kek film luar mas andi.

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 14 Oktober 2017 13.18

Mungkin tahun 1980-an lagi hits banget bikin film agak-agak begitu bang

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 14 Oktober 2017 13.19

Saya juga dulu berpikiran, itu lubang bekas tinggal buaya hehe tapi ternyata lubang buaya nama daerahnya.

Selamat anda telah didoktrin mas.

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 14 Oktober 2017 13.20

Mungkin diproduksi ulang biar dapet kualitas 4K mas bimo. Tapi jadi kontroversi juga sih.

Reply
avatar
Andi Nugraha delete 14 Oktober 2017 22.46

Baca ini jadi pengen nonton lagi nih, udah beberapa kali setiap nonton baru beberapa menit selalu gagal. Ada aja halangannya.. haha

Jadi penasaran, syadis apa gak ya..

Reply
avatar
Son Agia delete 15 Oktober 2017 00.28

Wow jadi ini blognya ujang asep. Kemarin-kemarin mau blogwalking tapi gak nemu-nemu link-nya.

Nah kemarin di kampung saya, di deket markas abri ada nobar film ini pake layar tancep. Banyak banget yang dateng, tapi yang nonton mah dikit.. biasa, pada butuh konsumsinya doang. Ha ha.

Bagus juga tuh saran si profesor. Kayaknya kalo di-remake anak-anak muda bakalan lebih tertarik nonton.

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 20 Oktober 2017 02.16

Kalo versi di tv mah, biasa aja sih mas. Hehe

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 20 Oktober 2017 02.18

Alhamdulillah, berbagi rezeki wkwk. Tapi baru wacana kan dan entahlah masih kontroversi bang wkwk

Reply
avatar
Andi Nugraha delete 8 November 2017 05.53

Bener, ada yang di potong ya, Mas :D

Reply

Add your massage to every single people do comment here!
EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

iklan masalien