Sabtu, 16 September 2017

author photo

Attention, please! Tulisan ini mengandung unsur 25% su'udzan, 25% ghibah, 25% kekhilafan penulis.

Dikala maghrib seperti ini, ditambah lagi hujan yang turun cukup deras, jadi mengingatkan saya kepada kejadian di masa sekolah.

Saat itu...

Ketika hujan menghalangi untuk segera kembali pulang ke rumah, dengan terpaksa siswa harus berteduh terlebih dahulu di selasar kelas ataupun di selasar bengkel jurusan.

Detik demi detik, menit demi menit, hingga adzan maghrib pun berkumandang, namun hujan tak kunjung reda. Saya pun memutuskan untuk sholat di masjid sekolah.

"Masjid bocor, ya?"

"Iya bocor, kita sholat kloter pertama aja."

"Yaudah. Mas kimpoy, buruan komat."

Seperti biasa, tunjuk menunjuk untuk menentukan siapa yang menjadi imam pun terjadi. Namun syukurlah ada seseorang tiba-tiba datang dari belakang secara sukarela mau menjadi imam.

Kebetulan saya mengenali seseorang tersebut. Dia adalah seorang adik kelas yang terlihat dari skodernya.

"Allahu akbar." Imam memulai sholat.

Dan kejadian klimaks pun bermula...

"Allahu akbar." Imam bertakbir dan melakukan rukuk.

Saya kaget.

Saya bingung kenapa imam tak mengeraskan suara saat membaca surat Al-Fatihah dan surat pendek? Ini kan sholat maghrib bukan sholat ashar.

Maka saat itu terbagilah menjadi tiga golongan. Golongan langsung ikut rukuk. Golongan bingung tapi akhirnya ikut rukuk. Golongan yang membatalkan sholat.

Dan saya termasuk ke golongan yang kedua. Bingung tapi akhirnya ikut rukuk. Pada rakaat kedua pun sama, imam tak mengeraskan bacaan sholatnya. Setelah sholat kloter pertama selesai, ternyata tak hanya saya yang bingung, yang lain pun juga ikut bingung.

"Eh kok tadi begitu ya?"

"Yaudah ikut sholat lagi yuk."

Dan hampir setengah dari yang sudah melaksanakan sholat pada kloter pertama, mereka kembali melaksanakan sholat maghrib secara berjamaah bersama golongan ketiga. Bagaimana dengan saya? Saya tidak sholat kembali. Saya bingung.

"Sholat lagi gak sih?"

"Gatau. Nanti tanya haji kosim dulu aja dah."

Saya berada dalam dilema, antara yakin dan tidak yakin. Setahu saya pada saat itu bahwa mengeraskan suara saat sholat bukanlah sebuah rukun, dan saat itu pun tidak ada yang berucap "subhanallah" kepada imam, tapi ada satu hal yang masih mengganjal.

Terlepas dari faktor lupa atau tidak. Bukankah seharusnya seorang imam itu tahu tentang hal semacam ini? Bukankah syarat menjadi imam saja minimal adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur'an-nya, lalu yang paling banyak ilmunya, dan lain-lain?

Bingung-bingung ku memikirkan.

--- x ---

Tapi ada satu pelajaran yang bisa saya curi dari kejadian tersebut, bahwa apabila seseorang ingin menjadi pemimpin ternyata harus memiliki ilmu yang memadai. Jika tidak, akan membuat bingung makmumnya.

Pemimpin yang memiliki ilmu, tentu akan tahu tata cara menjadi seorang pemimpin sehingga makmumnya pun bisa yakin bahwa urusannya memang sudah diamanahkan kepada seseorang yang memang ahlinya.

Tapi bukan berarti makmum jadi tak perlu berilmu, bukan. Seorang makmum juga harus memiliki ilmu yang memadai juga, jadi apabila terjadi hal seperti kejadian diatas, dia dapat membimbing makmum lain serta mengingatkan imam yang mungkin saja "khilaf" kembali ke jalan yang benar.

Kan bahaya.

Apabila imam tak berilmu, makmum juga tak berilmu, kalo kata komentator bola mah akan menimbulkan praha-praha dalam rumah tangga, bi.. bisa hancur negara ini.

Dan intinya, hujan saat ini mengingatkan saya kembali bahwa saya itu ternyata masih bodoh. Masih banyak hal yang saya belum tahu.

Sampai saat ini pun saya lupa untuk mengkonfirmasi kepada doi kenapa tidak mengeraskan suara pada saat itu, serta belum menanyakan kepada haji kosim bagaimana fatwa apabila ada kejadian seperti itu.

Apakah hal ini yang menyebabkan negara api jadi salah urus? Apakah hal ini yang menyebabkan negara api kurang berkah?

Prit... Prit... Prit...

Terdengar suara peluit sangkakala tanda bahwa siswa disuruh pulang.

Sekian. Terima kasih.

Sumber foto : fanpop.com
Klik Disini

This post have 12 komentar

avatar
Bayu Fajar Pratama delete 17 September 2017 02.09

Itu unsur tulisannya 25% nya lagi apa ya mas? Sepertinya masih belum 100% hehe :D

Perihal mengeraskan bacaan shalat tadi, saya juga tidak tahu apakah tidak mengeraskan saat shalat maghrib itu salah. Saya pernah mengalami hal yang serupa saat menjadi makmum shalat maghrib di suatu jamaah. Imam tidak mengeraskan bacaan al-fatihah dan langsung rukuk. Saat itu saya malah teriak, "woi kok nggak dikeraskan bacaan al-fatihah nya?" Seketika itu juga shalat kami semua batal hahaha. Shalat diulang dengan bacaan al-fatihah yang dikeraskan :D

Reply
avatar
Hawadis delete 20 September 2017 16.28

wa wa waaa... kalo yg magrib saya nggak pernah, kalo zuhur tapi dibaca dgn keras pernah kejadian, dan makmum akan berucap subhanallah, masih nggak ngeh imamnya, makmum berucap "samar" dalam bahasa arab.

hukumnya saya juga belom tahu kalo nggak ada yg ngingetin gitu. karena sekelas nabi saja pernah lupa bacaan surat, dan makmum diam. seabis salat, nabi seolah mamarahi makmumnya karena tidka mengingatkan, sedangkan waktu itu sahabat (ubay) menjawab karna dia belom tahu apakah surat tersebut ditarik atau diubah. dan nabi menjawab bahwa ubay yg benar. artinya, makmum juga harus tahu terutama makmum di barisan paling depan.

dan yah... kejadian itu malah membuat perenungan hebat ya kang Asep... wuiiihhh mantap..

Reply
avatar
Andie delete 20 September 2017 19.07

waks, emang ceritanya lucu ya, tapi maknanya mas... dalemmm jlebbb ke hati para pemimpin...

prit pritt, parkir seribu mas

Reply
avatar
Icha Hairunnisa delete 21 September 2017 17.23

Huahahahaha. Lucu nih. Tapi aku bingung antara mau ketawa atau ikutan bingung sama imamnya :(

Selama salat berjamaah, kayaknya belum pernah ngalamin kejadian itu. Huhuhu. Kalaupun misalnya pernah, yang paling ngeh mungkin aja makmum laki-lakinya.

Satu hal yang mengganjal pas selesai baca ini. ASEP, ITU BENERAN NAMA MASNYA ITU MAS KIMPOY? Namanya mengingatkan akan suatu kegiatan yang berfaedah...

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 23 September 2017 07.46

25% nya lagi, biarkan pembaca yang menyimpulkan mas :D

Wah kok engga kepikiran ya, boleh dicoba tuh kalo ada kejadian seperti ini lagi wkwk

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 23 September 2017 07.48

Wah ilmu baru lagi, harus terus belajar terus kayanya nih saya.

Bukan merenung sih tapi kangen sama kejadian pas sekolah wkwkwk

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 23 September 2017 07.49

Semoga suara rakyat selalu didengar oleh pemimpin *loh

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 23 September 2017 07.59

Yap, seharusnya emang makmum shaf terdepan yang ingetin tapi ya, mungkin kaget jadi spechless

Temen-temen manggilnya begitu ._.

Reply
avatar
Yoga Akbar Sholihin delete 27 September 2017 21.22

Belum tahu pasti itu salatnya diterima atau nggak. Yang gue tau, kalau lupa nggak apa-apa. Namun, makmum barisan pertama memang kudu menegur imam yang salah, sih. Jadi inget kemarinan ada kakek-kakek entah pelupa atau gimana. Nggak Alfatihah dan langsung surat pendek. XD

Gue sendiri malah pernah keterusan tuh, pas salat Magrib rakaat ketiga malah mengeraskan suara. Baru "bismillah" aja, sih. Cuma tetep malu euy~ :(

Reply
avatar
Bayu Fajar Pratama delete 28 September 2017 02.13

Menurut kesimpulan saya, 25% nya lagi hikmah :D
Hahaha silahkan mas :))

Reply
avatar
Bimo Aji Widyantoro delete 7 Oktober 2017 09.58

saya malah ikut ketawa baca bagian ini, hehe...

Reply
avatar
Bimo Aji Widyantoro delete 7 Oktober 2017 10.03

Saya dulu pernah kejadian, lokasinya di masih pedalaman desa. Saat itu saya singgah shalat maghrib. Kebetulan imamnya seorang haji, keliatan sih dari penampilannya. Shalat berjalan dengan khusyuk tapi memasuki bacaan al-fatihah ada, terdengar di samping kanan saya ada juga yang membaca al-fatihah dengan suara keras, gak mau kalah dengan imam. Saya aja kaget kok jadi imamnya ada dua gini sih. Ya udah saya lanjutin aja sampe selesai dan bertanya sama imamnya, kenapa bapak yang diujung tadi juga baca al-fatihah. Ternyata kata pak imam, kalau tadi itu orang setengah sadar (waras), jadi warga memakluminya. Tapi biarpun gitu kata pak imam, dia orang yang paling rajin dateng ke masjid.

soal cerita mas diatas, saya sendiri pbelum pernah ngalamin kejadian yang serupa. Tapi memang benar, syarat menjadi imam bukan diliat dari umurnya tapi sejauh mana pengetahuannya tentang kepemimpinan termasuk adab dan tata cara shalat sebagai imam.

Reply

Add your massage to every single people do comment here!

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

iklan masalien