Jasa Vector Murah

Sabtu, 01 Juli 2017

author photo
Perang Media Sosial Ketika Tahun Politik

Kangen engga sih sama kondisi facebook yang seperti dulu? Iya ketika buka facebook tuh hanya sebagai sarana hiburan, nulis-nulis status alay, saling berbalas di beranda orang, colek-colekan, ngetag hanya untuk bilang; tfl ea, tfc ea, tft ea, bahkan hanya untuk bermain game, kalian kangen engga?

Engga juga sih wkwk.

Iya, sebagai sarana hiburan semata. Saya dulu bikin facebook itu tahun 2010, itu pun pake jasa joki, soalnya saya engga ngerti cara bikin email itu kaya gimana. Zaman dimana ketika nulis status aku masih "q" karena esia biayanya perkarakter, dengan nama akun yang engga kalah absurdnya seperti "aq cyank kmyu clallu forever" dan sebangsanya. Tapi jujur, kalo dibandingin sekarang, hal itu lebih menghibur untuk dibaca kembali.

Tahun 2012 beranda facebook udah makin sepi, malah lebih banyak bapak-bapak dan emak-emak yang menggunakan facebook. Hal ini bisa dilihat dari saran pertemanan, oh iya saat itu juga muncul trend lucu-lucuan yang disebut meme. Jadi saya buka facebook cuma buat baca meme, ketawa garing sampe jadi sarjana, lalu klik bagikan. Udah gitu doang tanpa ada interaksi sosial, padahal disebut media sosial ya? Sampe-sampe perasaan saya bilang:

"Punya 600 pertemanan di facebook tapi hanya saya doang yang masih nongol, apa hanya saya yang masih maen facebook." Saya coba cek chat yang masih aktif, itu pun paling hanya 5 biji yang online.

Kangen engga? Dulu emang udah banyak orang ribut-ribut di facebook, tapi kalo dulu, ribut paling gara-gara masalah cinta. Sampai pada akhirnya, ribut karna masalah sepele yang engga begitu penting, ribut karna isu sara, ribut karena ngerebutin saya yang begitu ganteng ini dan yang paling menyita perhatian pada waktu itu ialah kasus Prita Mulyasari karna curhatannya di media sosial, eh bikin masuk penjara, edan-edan.

--- x ---

Tahun 2014 awal mula semua berubah. Cyber war atau socmed disaster melanda. Bayangin, gara-gara pemilu yang hanya ada dua pasangan calon, bikin Facebook Indonesia jadi gila. Iya, berita fitnah sana-sini, komentar dan status seperti ahli politik semua, saling menghujat, saling merendahkan.

Mungkin ninja yang ada di Ninja Saga pun kalo boleh resah, dia bakal resah. Selain bikin dia jadi pengangguran, dia pun stres tiap hari ngeliat kata-kata kasar yang secara psikologis bisa merubah mentalnya. Contoh ketika seharusnya dia mengeluarkan jurus Kagebunshin No Jutsu karna kepalang emosi, dia malah melihat kata kasar dan ngeluarin jurus yang membuat dia jadi siluman kodok, kan engga banget.

Saya berharap semua itu akan membaik setelah pemilu terjadi, tapi ternyata yang ada makin parah. Kasian aja gitu sama orang-orang pintar di luar sana yang akhirnya terjerumus dan terseret ke jurang kebodohan, iya banyak postingan provokatif, orang bodoh (termasuk saya) tiba-tiba jadi sok pintar, dinasehatin eh malah ngajak ribut.

Akhirnya yang tadinya damai, menjadi panas suasananya, karna engga mau saling mengalah. Walaupun saya inget sebuah nasehat, tinggalkanlah perdebatan sekalipun engkau benar. Tapi ketika dibiarkan, manusia batu ini makin ngelunjak dan semakin samina-mina ee waka-waka ee. Gatel jari ini dan khilaf ikut komentar. Jika sedikit saja kontra dengan mereka, bakal dibilang sok suci, anti kebhinekaan dan mereka makin tambah mem-BULLY, sebenernya maunya apasih?

Mereka terus menyudutkan, berkata kasar, terus menyebarkan fitnah. Bikin opini sesat, HOAX makin meraja rela jadinya. Kita lawan pake postingan yang niatnya menjelaskan dan mendamaikan, eh ada aja orang nimbrung engga jelas dan ngomel-ngomel.

Opini-opini sesat yang menggiring masyarakat ke sebuah isu, padahal itu hanya sebuah perbuatan tipu-menipu. Ya ibaratnya tuh, anda berani bayar berapa? Pencitraan, elektabilitas, framming itu bisa dibuat bahkan menjadi fake taxi trending, semua berita di media bisa anda kuasai, yap! Mereka bisa mengatur semua, dan pasukan ini biasa disebut buzzer. Akhirnya masyarakat menjadi buih di lautan informasi, terombang ambing hanya bisa pasrah terbawa opini sesat dan menjadi sesat.

Saya lelah sebenernya, setiap buka media sosial, pasti ada yang membuat darah menjadi tinggi, makanya semenjak saat itu fitur laporkan, blokir, menjadi hal yang rutin dilakukan, entah sudah berapa banyak temen yang saya unfriend gara-gara kasus yang terjadi seperti sekarang, ibaratnya kalo kalian engga di pihak kita, kalian itu musuh, tenggelamkan!

Saya paham, iya saya juga merasa di kehidupan nyata sudah seperti tidak ada keadilan. Mungkin semua ini terjadi karna kita menjadi korban ketidakadilan tersebut, tapi bukan berarti menjadi sebuah alasan untuk kita, menjadi semacam "penjahat keyboard" di dunia maya, bukan?

Kita teh saha? Karna di dunia nyata kita bukan siapa-siapa akhirnya pelampiasannya di dunia maya? Merasa jadi hebat? Engga, malah gaungan kita di dunia maya menunjukan sisi gelap, sisi jahat didalam diri kita sebenernya. Meskipun banyak hal yang membuat gerah. Contohnya kasus penista agama, hati saya sebenernya sudah kesel rasanya tapi kita harus tetap bersabar karna engga sedikit yang memanfaatkan ini. Menjadi lahan untuk memainkan topeng mereka, akhirnya kita tergiring ke opini hate speech. Sekali lagi, mohon bersabar ini ujian.

--- x ---

Sepertinya kita sudah banyak lupa hakikatnya media sosial, iya seharusnya media sosial tempat kita berinteraksi dengan orang lain, bercanda dan saling mengenal. Karna fungsi tambah teman di facebook tuh agar kita; Hai aku orang Bogor loh, kamu orang mana? Temenan yuk, oh sekarang di Bogor musim hujan nih, jadian yuk! Oke sip, kalo yang itu modus.

Tapi mungkin hal itu bisa saja terjadi, seperti yang saya alami dimana tahun 2013 bisa jatuh cinta pada seseorang hanya karena dia menulis sebuah status "Jaga Iffah, Jaga Izzah". Saya pun engga ngerti kenapa bisa langsung jatuh cinta dan setelah saya cari, emang artinya sungguh luar biasa. Dan membuat saya memulai sebuah pencitraan di media sosial, menjaga sikap dan etika saya. Suasana di mana ketika melihat akun dia bertanda hijau itu rasanya seneng banget, tau bahwa dia online itu rasanya gembira banget. Eh pas saya caper ke dia, dianya malah udahan maen facebooknya, sedih jadinya kan.

Tahun 2015 di mana saya rajin menjadi stalker, tukang fudul orang lain. Yap, karena waktu itu baru lulus SMA-SMK jadi pengen tau temen-temen melanjutkan kemana aja, meski agak nyesek sih karena mereka hebat banget, tapi engga senyesek ketika fudul mantan kok.

Namun kalo dipikirkan secara umum lagi, media sosial itu untuk apa sih? Seharusnya sebagai sarana informasi dong. Tapi melihat kondisi yang sekarang, kita harus selective for information! Ibaratnya no picture is hoax, iya jangan mudah percaya begitu saja dengan sebuah informasi. Semua serba abu-abu, sudah sulit membedakan mana putih mana hitam. So, facebook itu untuk apa? Instagram itu apa? Untuk pamer dan melihat aurat orang lain? Twitter untuk apa? Untuk mengomentari orang lain tapi lupa mengomentari diri sendiri?

Saya kangen, namun saya sudah lelah. Rasa khawatir ini semakin menjadi-jadi tapi saya berharap semoga saja ini cepat berlalu, menurut saya tentang hal isu nganu dan yang lainnya, hanya pelampiasan bagi mereka yang sebenarnya lemah dan sakit hati dengan keadaan. Akhirnya ingin mengadu domba hubungan diantara kita.

Memang saya merasa saat ini keadilan hanya untuk mereka yang kuat, bukan untuk yang benar. Entahlah, karena saya juga bagian dari pembodohan semacam ini, menutup semua akun media sosial untuk mendapatkan ketenangan, tapi jujur hanya facebook yang engga pernah tega buat ditutup. Rasanya tuh ibarat, lagi sayang-sayangnya tapi dia tiba-tiba minta putus. Halah.

Terakhir ada pertanyaan, apakah saya kangen? Iya, tentu saya kangen apalagi sama doi, eh, maksudnya kangen sama kondisi media sosial apalagi facebook yang begitu damai. Tapi saya jadi lelah setahun terakhir ini belum merasakan manfaat dan perubahannya. Semoga kedepan semua akan menjadi lebih baik lagi.
your advertise here

This post have 0 komentar

Add your massage to every single people do comment here!
EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

iklan masalien