Senin, 17 Juli 2017

author photo

Ngomongin kasus bullying yang terjadi pada salah satu universitas di Kota Depok saat ini, entah kenapa gua jadi teringat sebuah pengalaman di masa lalu. Ketika ada seorang teman mengalami bullying dan tak sedikit yang melihat kejadian tersebut, namun semua hanya bisa berdiam diri bahkan ada yang ikut mentertawakan.

Beruntung, saat itu handphone dan media sosial belum banyak dimiliki oleh anak-anak sekolah, mungkin jika kejadian tersebut terjadi pada hari ini, tidak mustahil akan ada headline Kasus Bully Siswa SMP di Bogor.

--- x ---

Kejadian yang terjadi saat gua berada di kelas 8 sekolah menengah pertama itu, dialami oleh seseorang bernama ehm.. sebut saja mr. A. Dia dibully kenapa sih? Entahlah, yang pasti karna membuat si pelaku marah dan terjadilah bullying. Kondisi semakin memburuk, ejekan semakin gencar bahkan sampai mengunci mr. A di dalam kelas.

Awalnya rasa tak tega itu muncul, apalagi saat mr. A mengeluarkan air mata, tapi gua bisa apa? Jika mencoba menghentikannya, gua khawatir, nanti malah gua yang menjadi target selanjutnya, gua pun memutuskan untuk pergi meninggalkan lokasi tersebut. Ya hal ini tidak terlepas, trauma yang gua alami karena pernah merasakan bagaimana tidak enaknya dibully.

Tapi naif banget ya gua, engga mau nolongin (oh iya, gua akhirnya tau, jika kita melakukan pembiaran terhadap hal yang melanggar hukum seperti bullying, maka kita dianggap telah melakukan pelanggaran hukum juga, dengan maksimal hukuman 5 tahun penjara)

--- x ---

Dulu, gua dibully karena sifat gua yang aneh dan rese. Aneh karena gua suka ngomong sendiri, padahal kan gua ngelakuin hal itu ada maksudnya. Yap, gua itu suka ngomong sendiri karna mencoba memancing otak supaya lebih cepat berpikir. Ehm.. pokoknya agar gua percaya diri sehingga mikirnya jadi lancar gitu, bukan karena gua membutuhkan perawatan di rumah sakit jiwa, bukan.

Terus katanya gua itu rese, rese karena gua engga mau ngasih contekan saat ujian dan suka ngadu kalo ada temen yang bandel. Padahal maksud gua itu baik tujuannya, tapi salah diartikan oleh mereka (tapi gua sadar kok, gua ngeselin) Akhirnya gua pun dibully dengan sasaran kondisi fisik gua yang kecil, kurus dan berkulit sawo matang ini. Tidak hanya itu, di kelas pun, gua hanya memiliki sedikit teman karena efek sosial tersebut.

--- x ---

Itu saat gua berada di kelas 7, naik ke kelas 8 gua berubah, berharap berubah menjadi power ranger, eh malah berubah menjadi manusia yang cuek. Tapi karena sifat cuek inilah, gua sudah tidak dibully lagi. Aman. Lalu lanjut ke kelas 9, masih sama, bullying tetap saja terjadi, hanya dengan korban yang berbeda, contoh kasusnya yang dialami mr. B, siswa pindahan dari sekolah lain.

Dia pindah dengan alasan, selalu menjadi objek bullying di sekolah sebelumnya dan orang tuanya berharap, mr. B tidak akan mengalami kasus bullying kembali. Sayang, mr. B tetap menjadi objek bullying di sekolah barunya. Atuh ya sifatnya emang ngeselin dan suka ngerepotin orang lain, udah gitu penampilannya culun banget! Aneh! *oi sadar diri oi *istighfar.

--- x ---

Memasuki jenjang pendidikan di smk, kasus bullying tak mengalami penurunan. Walaupun berkali-kali mendapat teguran dan pembinaan; mulai dari kasus bullying yang ditangani oleh kepala jurusan hingga kasus bullying yang ditangani kepala sekolah, seperti tidak ada efek jera, selalu saja berulang. Malahan saat mau lulus pun, masih ada aja yang melakukan bullying ke adik kelas.

By the way, bullying telah menjadi rantai setan yang berkesinambungan saat ini, mulai dari siswa sd, smp sampai sma, semua pasti pernah mengalami bullying. Mulai dari hal yang sepele, mengejek nama orang tua, mengejek kondisi fisik, dan masih banyak lagi, tapi kebanyakan sih bullying karna sebuah kondisi;

Dia terlihat berbeda dengan kita

Begitu pula, bullying pun rata-rata dilakukan secara berkelompok. Bullying juga tidak mengenal usia, lihat saja di medsos saat ini, bullying dilakukan mbak-mbak, mas-mas, ibu-ibu, sampai bapak-bapak yang seharusnya memberikan contoh baik dan teladan kepada generasi muda. Bullying pun tidak mengenal tempat, di tempat gua bersekolah yang notabennya sekolah negeri, kasus bullying tetap masih banyak terjadi.

--- x ---

Lantas apa solusinya untuk kasus bullying saat ini? Benar apa kata Uzumaki Naruto, kita hanya perlu saling mengerti, merasakan setiap penderitaan yang dirasakan orang lain.

Toh mereka juga terlihat berbeda, bukan atas kemauan mereka sendiri. Kulit yang hitam, hidung yang pesek, status yang jomblo atau bahkan memiliki pemikiran yang tak bisa dipahami orang lain. Semua itu merupakan anugerah yang telah diberikan kepada setiap manusia dan bukankah kita ini diciptakan berbeda-beda untuk saling melengkapi?

Mengutip dari seorang psikolog, bullying yang terjadi saat ini karena kebiasaan masyarakat yang suka membuat JOKE dari kekurangan orang lain. Mungkin saja yang dilakukan tersangka pada kasus ini pun, niatnya hanya ingin bercanda dan ia merasa candaan yang dilakukan adalah hal yang sudah dianggap biasa saja, karena memang sering dilakukan. Sehingga solusi selanjutnya, yuk hentikan kebiasaan membuat joke dari kekurangan orang lain, hentikan membuat meme-meme yang tidak jelas.

Dan yang terakhir, melakukan pendidikan akhlak di usia dini agar tidak melakukan bullying dan menghentikan tontonan yang kurang mendidik. Ya meskipun ada rasa pesimis sih, khawatir mungkin akan sama nasibnya seperti nasib pendidikan membuang sampah, diajarkan dari kelas 1 sampai kelas 12 dan akan terlupakan dalam waktu 5 menit saat menghadapi realita hidup yang sebenarnya.

--- x ---

Itu solusinya? Entahlah, gua pun tidak tahu solusinya, gua merasa tidak pantas memberikan solusi karena gua juga bagian dari pembodohan ini. Bullying telah menjadi budaya yang sulit dihilangkan saat ini (nah apalagi akan ada masa ospek nih, hati-hati aja antara senioritas dan junioritas). Gua hanya ingin menyampaikan rasa bersalah jika pernah menjadi bagian dari bullying, seharusnya gua sadar bahwa, serius deh dibully itu engga enak, bikin sakit hati.

Pokoknya hati-hati dengan bullying, karena kita tidak tau siapa yang kita bully. Beruntunglah jika orang yang pernah kita bully memaafkan, tapi sebaliknya, bagaimana kalo yang kita bully itu seorang psikopat? Bahaya, karena bullying bisa meningkatkan emosi dan you knowlah bisa berujung maut.

Mengingat kembali, apa yang disampaikan Uzumaki Naruto :

Sebagai seorang manusia, kita hanya perlu saling memahami, merasakan setiap penderitaan yang dirasakan dan dialami manusia lain.

Yuk hentikan bullying!
Klik Disini

This post have 0 komentar

Add your massage to every single people do comment here!

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

iklan masalien