Sabtu, 01 Juli 2017

author photo
Impian Seorang Anaka Untuk Membahagiakan Kedua Orang Tuanya

Saya akan bercerita tentang kisah saya beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu saya masih berada di kelas 3 SMP. Mungkin sudah menjadi agenda tahunan bagi setiap sekolah untuk mengadakan istighosah menjelang detik-detik ujian nasional. Yap, apalagi sekolah saya sangat mengedepankan karakter siswa-siswinya yang religius, yang katanya sih termasuk dalam Program Pendidikan Indonesia Berkarakter gitu.

Merenungkan akan sesuatu perbuatan yang udah dilakukan selama ini. Kita diajak untuk membayangkan bagaimana rasanya apabila kita menjadi orang tua, dimana tiba-tiba mendapatkan selembaran kertas dari sekolah yang bertuliskan :

"Anda Kurang Beruntung, Silahkan Coba Lagi!"

Ya bukanlah! Tapi tulisan "Anak Anda Dinyatakan Tidak Lulus" bagaimanakah perasaanmu? Namun ya begitulah, doktrin semacam ini masih belum mampu membuat hati ini melunak dan juga bersedih.

--- x ---

Pada sesi terakhir perenungan, saya kembali diajak untuk membayangkan. Apabila pulang dari sekolah nanti, ternyata orang tua kita sudah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Tak ada lagi kasih sayang mereka hadir di rumah kita. Memang, jika sudah bicara tentang maut saya engga bisa bohong, saya takut. Maka disaat itulah air mata sudah tak tertahan lagi dan jatuh menetes.

Dengan backsound lagu bunda *puter lagu bunda, berhasil melunakan hati yang sebelumnya mengeras, padahal saya pengennya keliatan so cool gitu. Alhasil niat itu gagal. Selepas itu kepala sekolah pun melakukan jurus seribu bayangan dan berpidato di atas mimbar, memberi intruksi kepada siswa untuk mengeluarkan selembar kertas dan juga alat tulis.

“Sebelumnya, sebagai nilai tambahan. Silahkan tulis nama dan kelas kalian, lalu dibaliknya, tulis pesan yang bisa kalian ambil dari materi kali ini.”

Lalu…

“Tulis juga keinginan yang ingin kalian berikan kepada orang tua, sehabis itu lipat lalu kumpulkan.”

Kurang lebih seperti itu tapi dengan kata-kata yang lebih lembut. Karena saya engga merasa ada firasat apa-apa, dengan percaya diri saya menulis...

Ingin memberangkatkan kedua orang tua pergi haji.

Dan saya yakin hampir semua anak pasti menginginkan hal mainstream seperti itu dan anak mana di belahan bumi ini yang tidak ingin membahagiakan kedua orang tuanya? Tapi setelah saya resapi, ternyata kebahagiaan orang tua itu sebenarnya simple dan engga ribet.

Ketika anaknya tidak susah menjalani kehidupannya sendiri, itu pun bisa membuat bahagia orang tua. Adanya keberadaan kita dikala mereka butuh pertolongan, menemani dikala mereka merasa sepi di hari tuanya. Bahkan sekalipun kita menemukan jodoh, padahal hal itu akan membagi cinta anaknya kepada mereka, asalkan sudah yang terbaik untuk anaknya, yakinlah mereka akan bahagia.

Lalu saya pun teringat sebuah hadits bahwa ridhonya Allah adalah ridhonya orang tua, Kalo ngomongin tentang orang tua memang engga ada habisnya, karena betapa besar pengorbanan mereka. Dari anaknya bayi sampe anaknya udah dewasa, kasih sayangnya terus mengalir sepanjang masa.

Dan beberapa bulan kemudian saat pengambilan rapot, betapa kagetnya saya menemukan kertas yang berisi harapan saya sudah terselip di dalam rapot. Ternyata hal itu memang disengaja oleh pihak sekolah dan diberikan ke semua orang tua siswa pada saat pengambilan rapot. Saya gatau apa perasaan emak saat ngebaca itu, engga berani nanya. Tapi saya malah seneng dengan begitu pesan yang selama ini pengen saya sampaikan, sudah tersampaikan, dan saya juga berharap semoga ada kesempatan sekaligus moment seperti itu kembali.

Yaelah, ribet banget, tinggal bilang langsung aja bisa kan?

Bener sih, tapi saya ini bukan tipe manusia yang bisa mengungkapkan perasaan gua secara langsung ke orang lain. Namun yakinlah mau dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap cinta, bukankah begitu? Dan mungkin pesan cinta yang dapat saya sampaikan ke orang tua hanya berupa lewat do’a,

"Rabbighfirlii Waliwaalidayya War Hamhumaa Kama Rabbayaanii Shagiiraa."

Aamiin, apa kalian ingin membahagiakan orang tua kalian juga?
Klik Disini

This post have 2 komentar

avatar
Bayu Rohmantika Yamin delete 22 Oktober 2017 20.56

Wah, gue dulu malah ga ada istighosah menjelang ujian nasional gitu, hehe. Tapi unik juga ya cara penyampaian pesan untuk orangtua itu, awalnya disuruh nulis di selembar kertas tentang materi yang disampaikan, eh ada selipan keinginan kepada orangtua. Dan dikasihnya pas pembagian rapot. Pasti semua orangtua yang baca keinginan anaknya masing-masing jadi pada terharu, ngga mungkin ngga :)

Tapi emang bener sih, ridhonya Allah ya ridhonya orangtua, jadi gimana cara kita berbakti pada orangtua, itu yang penting.

"Ketika anaknya tidak susah menjalani kehidupannya sendiri, itu pun bisa membuat bahagia orangtua" --> setuju banget. Mungkin yang ada di benak kita sebagai anak, orangtua akan seneng kalo dikasih macem-macem, ini itu dll, padahal kebahagiaan mereka justru sederhana: melihat anaknya bahagia. As simple as that. Ngelihat kita bersikap sopan ke mereka aja, itu juga bentuk kebahagiaan bagi mereka kok.

Ya, pastinya gue pun ingin membahagiakan orangtua. Ah, kalo ngomongin orangtua, malah jadi terharu gini, hehe. Btw, tulisannya bagus :)

Reply
avatar
Asep Kurniawan delete 26 Oktober 2017 17.34

Wah anti mainstream tuh sekolah bang ga ada istighosahnya wkwk

Emang, intinya kebahagiaan anak juga kebahagiaan orang tua, tapi terkadang kita lupa akan hal ini.

Terima kasih bang :D

Reply

Add your massage to every single people do comment here!

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

iklan masalien